Boleh Marah…

Marah itu boleh nggak sih?….Kalo yang tanya orang dewasa, maka saya bilang nggak boleh. Titik harga mati
Kalo yang tanya anak kecil, saya bilang boleh marah. Kenapa?

Karena menurut saya Marah yang dilarang adalah tindakan emosional yang dilakukan atas dorongan perasaan, bukan logika. Marah disini bisa berupa tindakan agresif seperti teriak-teriak, ngomel, memaki, tapi bisa juga pasif seperti menanangis, diam dan dendam. Misalnya waktu mobil kita diserempet motor. Atau saat buku kita disobek si kecil. Mungkin kita diam saja, tapi dalam hati gondok juga kan? Nah perasaan itulah yang menurut aku harus segera didinginkan.
Amarah yang ini yang seharusnya dibasmi. Karena tindakan apapun kalo didasari tindakan emosional pasti gak baik jadinya.

Nah, definisi Marah ini jadi berbeda pada anak kecil. Entah bawaan orok atau karena lingkungan, hampir semua anak kecil mendefinisikan marah sebagai perkataan keras yang menyakiti hati mereka dan membuat mereka sedih/takut. Bahkan saat perkataan /teguran itu disampaikan dengan lembut tanpa nada tinggi sekalipun
"Adek bukunya jangan disobek ya…" eh nangis anaknya
Atau saat si kecil lupa dengan ulang tahun kita
" Mama jangan marah ya, tapi adek lupa beliin mama kado"
Padahal mana mungkin kita marah hanya karena kado. Yang ada malah terharu dan gemes.
Tapi kenyataannya mereka takut. Takut kita akan kecewa, takut kita akan menegurnya dll.
Itulah definisi marah buat mereka.

Dalam hal ini saya terpaksa mengatakan bahwa marah itu tidak apa-apa. Dan marah itu diperbolehkan.

Pertama, karena dalam usia perkembangan seperti mereka, anak-anak harus mulai mengenal peraturan dan norma-norma dasar. Mana yang diperbolehkan, mana yang dilarang dan apa alasannya. Ada kalanya mereka harus belajar tentang batas-batas tersebut melalui teguran baik yang lembut maupun yang keras.

Dalam memperingatkan anak, saya pribadi memiliki 3 tahap
Tahap satu memberitahu dalam suasana santai dengan penjelasan panjang lebar
Tahap kedua adalah menegur dengan suara normal hanya untuk mengingatkan bila anak lupa batasan
Tahap ketiga menegur dengan suara keras saat tindakan yang dilakukan anak tergolong sangat berbahaya atau sangat tidak sopan. Supaya dia segera mengehentikannya dan selalu ingat untuk tidak mengulangnya lagi.
Tahap keempat adalah dengan peringatan fisik misalnya menggenggam lengannya bahkan menjewer. Dalam tahap ini saya merasa bahwa anak sudah seharusnya memahami aturannya tapi sengaja melanggar. Hal ini untuk menegaskan padanya bahwa peraturan ini bersifat wajib dan dia akan mendapatkan konsekuensi bila melanggarnya.

Misalnya anakku, sudah sering kali kami mengingatkannya peraturan di dalam mobil bahwa dia harus berada di kursi belakang demi keamanannya . Namun saat dia mulai bosan dan mulai maju ke depan kami harus mengingatkannya dengan baik. Saat dia tidak mengindahkan dan kembali maju kedepan saat mobil melaju kencang, saya harus memperingatkannya dengan keras untuk menegaskan bahwa perbuatannya tersebut salah dan sangat berbahaya karena dia bisa melukai dirinya sendiri dan mengganggu pengemudi. Bahkan saya harus menjewernya bila dia bersikeras minta dipangku ayahnya yang sedang sibuk menyetir.

Namun marah tidak hanya milik orang tua untuk memperingatkan si anak. Anak pun boleh marah, mengungkapkan emosinya. Tapi kita harus mengarahkan ekspresinya. Pada usia yang sangat dini sekalipun aku percaya anak sudah bisa merasakan kekecewaan, sedih, dan frustasi yang susah diungkapkan. Meskipun pemicunya hanya hal-hal kecil yang menurut kita remeh, tapi perasaan yang mereka rasakan itu nyata. Dan mereka harus tahu bahwa perasaan itu normal, dan mereka harus tahu cara mengatasinya.

Misalnya anakku, dia sudah susah payah membuat pesawat dari kertas bekas, tapi tanpa sengaja dibuang oleh ibu pembersih rumah. Saat itu ekepresi wajahnya seperti ingin menangis, tapi malu. Ingin marah tapi tidak tahu harus bilang apa. Ingin membuat lagi tapi dia terlanjur kecewa. Saya harus katakan bahwa dia berhak untuk merasa marah, dan saya mengerti kalau dia kecewa. Tapi dia harus mengerti bahwa pesawatnya terbuang tanpa sengaja, dan saya akan membantunya membuat pesawat baru. Tapi kali ini dia harus lebih rapi menyimpan peswat kertasnya supaya tidak terbuang lagi. Bila perlu ibu pembersih akan meminta maaf padanya karena sudah membuatnya sedih, jadi tidak perlu memukul atau berteriak2.

Menangis pun boleh kalau memang ia sedang sangat kesakitan atau sangat sedih. Dengan begitu kita jadi tau seberapa parah sakitnya tau seberapa sedih perasaannya. Melarangnya untuk menangis akan membuat dia semakin frustasi, dan kita pun tidak bisa memantau sewaktu2 dia kesakitan atau sedih. Tapi dilarang menangis apa lagi berteriak2 kalau hanya untuk menarik perhatian dan mendapatkan keinginannya. Dijamin bakal kena marah tingkat 4….

My Baby Blues

Semua ibu, mengalami Baby Blues, beberapa bahkan sampai pada tahap Post-Partum Depression. Ya, aku berani bilang SEMUA ibu tanpa kecuali. Meskipun tarafnya berbeda-beda pada setiap orang. And it’s all very normal.

Secara biologis tubuh kita baru saja mengalami perubahan yang amat besar saat hamil, lalu berubah lagi saat si bayi lahir. Segala perubahan hormon, perubahan fisiologis dll itu masih ditambah dengan kelelahan yang amat sangat, kurang tidur dan beban mental harus mengasuh seorang manusia titipan Tuhan. Itu semua tidak memberi waktu pada ibu untuk beradaptasi, menyesuaikan diri atau sekedar memulihkan diri sendiri. Orang yang baru operasi usus buntu aja masih dikasih waktu untuk pemulihan sebelum beraktifitas, nah ini malah ditambah kerjaan-kerjaan baru yang belum pernah kita alami sebelumnya (terutama untuk ibu baru)

Jadi sekali lagi aku tekankan untuk calon ibu, atau ibu baru; jangan merasa aneh apalagi merasa bersalah kalo kita mengalami suasana hati yang buruk sekali setelah melahirkan. Bayangkan ini PMS x10.

Kalo aku dengar dari cerita ibu-ibu lain dan dari artikel2 parenting, Baby Blues bisa bervariasi mulai dari perasaan lelah yang berkepanjangan, perasaan serba salah, perasaan sedih, perasaan marah pada setiap orang bahkan pada fase ekstrim perasaan benci pada si jabang bayi. Jangan buru2 menghakimi, bisa jadi itu semua hanya ulah hormon dan logika yang sedang jungkir balik. Pokoknya kalo sudah begini, jangan sungkan menerima bantuan orang lain. It for your own good and your baby. You have your entire life to take care of him/her, but for the time being, take care of yourself.

Ini aja aku baru bisa cerita tentang Baby Blues setelah 4 tahun berlalu, mungkin karena tahun-tahun sebelumnya aku sendiri masih berjuang untuk memahaminnya dan akhirnya menerimanya sebagai sebuah fase yang harus dilalui.

Tidak seperti suamiku, aku tidak asing dengan kehadiran bayi dalam rumah. Aku memiliki adik pada saat aku sudah sekolah umur 6 tahun. Jadi aku dengan sadar mengalami dinamika bayi baru dalam rumah dan turut membantu seadanya. Jadi saat aku hamil pun aku pede bakal bisa mengalami hal ini. Hanya saja di dalam hati aku masih berharap setelah melahirkan nanti, benar2 akan ada keajaiban motherly instinct yang membuatku mampu merawat anak manusia itu.

Tapi itu semua buyar saat menjelang kelahiran. Selama 24jam aku nggak tidur dengan kontraksi yang menyiksa di perut dan pangkal paha. Itu adalah awal dari exhaustion yang akan terus menumpuk sampai pasca kelahiran. Jadi, di saat aku amat sangat butuh istirahat aku nggak bisa tidur karena kepikiran ini bayi mesti diapain dan harus terus stand by jaga-jaga si bayi minta minum (masih untung nggak room-in jadi nggak terus menerus khawatir dengan si bayi).

Kekhawatiran berlebih itu semakin di perparah dengan datangnya ibu-ibu lain yang menceritakan kisah sukses dan kisah buruk anak-anaknya. Ini kepala kayak mau meledak dengan segala negativity “jadi aku salah ya karena caesar” “kenapa aku nggak sehebat si A” “nanti anakku bakal normal nggak tumbuhnya” “gimana kalo aku ga bisa asi” “gimana kalo ga bisa asuh anakku sendiri” “gimana kalo aku pake pembantu” “gimana kalo aku ga inget pesan2 suster” “gimana kalo aku ga bisa gantiin popok” “gimana kalo anakku demam dan aku ga bisa ngatasi” dll dll dll dll dll dll …………………dan BLAR! aku nangis senangis2nya di depan suamiku.

Semua kekuatan, senyum dan pikiran positif yang selama ini susah payah aku bangun, buyar…Aku salahin semua orang, aku salahin diriku sendiri, aku salahin suami, aku salahin keadaan, semua salah, salah semua. Kasian bayi itu punya ibu yang nggak berguna kayak gini. Seharusnya dia jadi anaknya si A aja, si A lebih kalem, lebih terampil, lebih keibuan bla bla bla bla bla…….nggak ada yang logis sama sekali.

Bahkan momen membawa bayi pulang yang aku bayangkan bakal meriah dan penuh suka cita ternyata jadi momen yang gloomy dan penuh kekhawatiran. Embah2 yang sudah lama nggak ngasuh bayi itu jadi panik dan senewen. Nggak ada tuh aura-aura ‘enak ada bayi di rumah’ yang biasa aku rasakan di rumah2 anak kecil. Semua tegang.

Bahkan saat ada yang membantu merawat si bayi dan ternyata si bayi lebih tenang dalam asuhannya, itu hati rasanya kayak diinjek2 gajah. Sakiit dan maraah banget. Jadi aku gunanya cuma buat minum aja kalo si bayi laper, kayak dispenser. Kalo aku nggak punya asi aku pasti sudah nggak ada gunanya.

Ketegangan itu terus membayangi 2 tahun pertamaku sebagai ibu. Tapi makin lama kekhawatiran itu berkurang karena banyak belajar dari sana sini. Dulu setiap ada orang yang kasih wejangan ini itu, bawaannya langsung emosi dan pengen nangis. Tapi makin kesini, makin bisa menyaring mana wejangan yang perlu didengerin, mana yang enggak. Kapan kita harus percaya kemampuan sendiri, kapan harus minta bantuan orang lain.

Dan si bayi yang dulu masih begitu rapuh dan sangat bergantung pada kita pun, akhirnya beranjak besar dan mandiri. Bisa main sendiri, bisa makan sendiri, ganti baju sendiri.

Kalo dipikir2 kekhawatiran2 itu banyak yang nggak berguna, cuma overthinking ibu amatir. Tapi ada juga kekhawatiran yang memang logis dan perlu dipegang supaya kita selalu aware dan nggak sembrono.

All in all, we mothers are all the same. Black white, rich poor, single double. We are not the only one, We are not alone. And always believe that the best place for a baby is with his/her parent. Period.

Membaca Kepribadian Anak Melalui Coretan Gambar

Seminar Parenting: Membaca Kepribadian Anak Melalui Coretan Gambar

Posted on April 20, 2014 by lilyardas

images1Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, pada tanggal 12 April 2014 Bintang Waktu sukses menyelenggarakan seminar parenting yang bertajuk “Analisa Coretan Gambar Anak”. Pembicara kali ini adalah Ibu Apriyanti SPsi dari Pusat Studi Komunikasi Bawah Sadar.

Analisa coretan gambar anak (doodle) merupakan bagian dari ilmu grafologi Imu yang mempelajari pesan yang terkandung dalam coretan tangan manusia, baik tulisan maupun gambar. Walaupun masih dikategorikan padapseudoscience, ilmu ini diyakini mampu mengkorelasikan pola-pola coretan yang dihasilkan tangan dengan kepribadian, karena merupakan manifestasi dari suatu bentuk penyampaian pesan dari bawah sadar seseorang.

Jenis sketsa menurut ilmu graphologi terdiri dari 4 macam, yaitu : lingkaran, kotak, segitiga, dan garis lekuk-lekuk. Berikut panduan dasar mengenai coretan gambar anak

  1. Gambar anak dominan lingkaran
  • Karakter anak ini penuh kasih sayang, cinta, suka memberi perhatian, sensitif, dapat melakukan interaksi sosial dengan baik, dan lainnya.
  • Cinta merupakan unsur penting dalam hidupnya dan minat akan kasih sayang merupakan kebutuhan terbesar bagi diri anak.
  • Umumnya kepribadian anak ini tertutup.
  • Minat dan bakatnya cenderung berhubungan dengan profesi kesosialan
  • Umumnya tidak suka permusuhan dan cenderung menjauhi sikap agresif, karena dia selalu mencari kedamaian, kasih sayang, dan persetujuan.
  1. Gambar anak dominan segitiga
  • Anak sedang labil, marah, kecewa, sehingga butuh perhatian lebih dalam.
  • Suka mengeksplorasi hal-hal yang baru, suka mendominasi pembicaraan
  • Biasanya karakter ini punya kemampuan memimpin yang bagus, cocok menjadi ketua kelas, kepala regu, pemimpin kelompok, dll.
  • Memiliki ketajaman berpikir dan pandangan yang kuat.
  • Sisi negatifnya, dia kerap tidak mau menerima masukan dari orang lain, suka memaksakan keinginan sendiri, selain juga sulit menjadi pengikut (follower).
  1. Gambar anak dominan segi empat
  • Sedang marah atau kesal, namun tingkatanya lebih rendah dibandingkan segitiga
  • Cenderung perfeksionis, konsisten, melakukan sesuatu dengan perencanaan matang, suka berolah raga
  • Penuh inovasi, berpikir secara logis, praktis, dan merupakan individu yang dapat diandalkan. Tata tertib dan disiplin adalah hal penting bagi mereka.
  • Negatifnya, terkadang apa yang dilakukannya sangat lambat.
  1. Gambar anak berupa coretan campuran dan dominan spiral
  • Jika coretan anak bercampur baur, ada bulatan, segitiga, segi empat, namun didominasi garis yang melengkung-lengkung, berarti anak butuh kebebasan dan eksplorasi diri
  • Dari sisi karakter, biasanya anak ini kreatif, mencintai seni, suka mengekspresikan sesuatu lebih terbuka, mencoba hal-hal baru, ekspresionis, dll
  • Sayangnya biasanya ia sulit diatur, keras kepala, semaunya sendiri, dll. Imajinasi merupakan motivasi utama dalam dirinya.
  • Umumnya ia adalah anak yang superunik dan jiwa seninya tinggi. Gagasannya sangat kreatif dan sulit diduga, berbeda dari orang kebanyakan.

Pesan dari Ibu Apriyanti:

“Bebaskan ia mencoret apa pun yang ia mau. Selagi ia melakukan kegiatan coret-mencoret, jangan memonitor atau memperhatikan, melainkan tinggalkan ia sendirian agar ekspresi emosi dan karakternya bisa keluar lebih maksimal.”

Untuk informasi lebih lanjut mengenai analisa gambar anak atau pun ingin mengkonsultasikan kepribadian dan bakat anak anda melalui coretan gambar, bisa menghubungi :

Pusat Studi Komunikasi Bawah Sadar

Jln. Toar 1 Blok B4/11

Kel. Tugu Utara Kec. Koja

Jakarta Utara

Email. greenclinic

Cari-cari TK

Jaman temen2nya Mozi masih minum ASI, eike sudah bingung cari ‘sekolah’ buat nitipin si tole selama ditinggal kerja.

Giliran temen2nya sibuk cari preschool aku sante2 karena udah ngerasa cukup dengan kegiatan2nya di penitipan

Sekarang gantian deh, memasuki umur 4 aku bingung2 lagi cari TK.

Sebetulnya kalo aku males buanget aku bisa aja tetep nyekolahin mozi di penitipannya sekarang sampe dia SD. Karena di SD pun tidak ada persyaratan sertifikat TK. Pokoknya dia lulus tes kognitif dan udah mandiri. Tapi masalahnya ini si anak udah jenuh banget, mungkin karena temen2nya yang sama gede udah pada pindah dan digantikan temen2 bayi yang lebih kecil. Mungkin juga karena dia udah 2 taun disana jadi pelajarannya ya itu2 aja. Ato mungkin karena dia stres juga tiap hari harus berangkat pagi pulang sore nungguin ibunya. Bisa jadi kalo sekolah TK yang sehari 3-4 jam dia nggak akan terlalu bosen.

Akhirnya diputuskanlah untuk cari TK. Dari situ masalah merembet jadi cari kontrakan deket TK, cari orang yang bisa anter jemput bahkan kemungkinan ibunya resign sekalian. Apapun deh demi anak. Apalagi ditambah ibunya sekolah lagi dan bapake tugas melaut lagi. Mu to the met lah ya…

Mr.Sony Vasandani pendiri Sunshine Preschool menulis artikel yang komprehensif mengenai bagaimana memilih sekolah (tanpa kesan memasarkan sekolahnya sendiri) dan dari situ aku berusaha menyusun kriteria sekolah yang sekiranya sesuai untuk Mozi.

Dulu waktu Mozi masih awal2 sekolah sekitar umur 2th aku udah mantep banget harus sekolah Mozi di Sekolah Alam, karena ini anak naga2nya gak bisa disuruh duduk diem dan dipaksa belajar dengan cara tradisional. Tapi makin gede ternyata dia mulai bisa diarahkan, bahkan sudah menunjukkan interest khusus pada bidang2 tertentu seperti membangun dan menyusun mainan, membaca dan bercerita, dan yang baru2 ini muncul adalah ketertarikannya untuk belajar bahasa. Mungkin karena denger mbah2nya ngajak ngomong Jawa, dan denger kita ngomong Inggris bahkan denger orang ngomong Mandarin di tivi/pas di hongkong dia jadi penasaran dan sering minta dijelasin.

Dari situ prioritas kami jadi bergeser dan meluas. Nggak terlalu spesifik banget kalo bisa:

1. Deket rumah/ada fasilitas penitipan sekalian
2. Metode Montessori biar anak lebih enjoy belajar
3. Ada mainan outdoor
4. Islami
5. Diajarkan bahasa asing ato malah bahasa penyampaiannya bahasa inggris sekalian supaya Mozi jadi terbiasa.

Dari situ kita ada beberapa kandidat sih, tapi insyallah pilihan manapun yang penting anaknya enjoy sekolah, nambah ilmu dan ga stres

Mozi Bermain ‘Salju’

Entah karena keseringan liat iklan natal di Disney Channel, atau karena baca dari buku, Mozi akhirnya penasaran sama salju

“Pak, Mozi mau maen salju” katanya, tapi kesian juga Bapake juga ga pernah liat salju jadi gak bisa banyak cerita :p.

Tapi kok ya ndilalah dalam rangka Natal dan Tahun Baru ini di Pondok Indah Mall ada Snow Playground dan Ice Skating Ring. Jadi dengan segala persiapan kami pun berangkat.

Kirain bakal kayak festival es yang ada tenda raksasa berisi patung2 es dan hujan salju buatan seperti yang pernah ada di Bandung dan Surabaya. Ternyata kali ini bener2 playground. Sebuah pelataran yang diselimuti serpihan es dan ditutup dengan tirai plastik. Di dalamnya ada mainan2 plastik dan seluncuran dari es untuk anak2.

Sebelum maen kita beli karcis dan sarung tangan/kaus kaki kalo ada yang membutuhkan. Sedangkan sepatu boots disediakan penyelenggara. Karcis masuknya 90rb kalo nggak salah, dan anak2 dikasih waktu 30 menit setiap kloter-nya.

Mozi sendiri dari rumah sudah pake sepatu tebal, kaus kaki dan bawa topi dan sarung tangan. Tapi kok ya malah lupa bawa jaket. Jadilah jaket ibu yang digulung2. Sarung tangan pun ternyata pasangannya ketinggalan jadi cuma bawa satu, akhirnya ibu kreatif beraksi dan kaus kaki cadangan jadi sarung tangan (gak keliatan banget kan :D).

He had fun, meskipun mainannya kudu rebutan tapi Mozi cukup senang bisa bikin gunung es, bisa dorong2 es pake gerobak/truk, bisa kedinginan dan kepeleset. Minimal dia nggak penasaran lagi sama salju deh. Meskipun menurutku itu bukan salju, tapi es serut yang keluar dari blower.

This slideshow requires JavaScript.

Mom in Training (2)

Setelah membahas trik-trik motherhood yang efektif posting sebelumnya, jadi mikir kira2 apa yang bisa diaplikasikan dalam keseharian saya dan apa yang kira2 bisa jadi lebih efektif. Apalagi sekarang aku punya 4 ‘anak’ yang harus dipiara kayak gini (mozi, bapake, kerjaan, kuliah).

Sehari-hari aku bangun beberapa jam setelah Bapake pamit kerja. Maklum kerjanya jauh dan kantornya 24jam jadi kudu dateng sepagi mungkin. Abis mandi, siapin sarapan dan bebenah baru deh bangunin Mozi.

Setelah malas2 kalo nggak sarapan dulu ya mandi dulu terus ganti seragam. Abis itu cau naik ojek ke sekolah yang cuma 10menit dari rumah. Dari situ lanjut ngojek ke kantor 10menit. 

Image

Di kantor beberes surat2, liat2 email terus nyeduh2 teh ato sereal kek buat ganjel perut sampe maksi. In between kerja kalo bosen baca2 materi kuliah apa nyicil2 tugas apa nyari2 bahan. 

Istirahat siang biasanya males keluar jadi makan siang sambil baca2 buku apa browsing2. Kalo masih on fire ya nggarap2 tugas lagi sampe jam pulang.

Jam 17 kurang dikit biasanya udah cabut dan jemput Mocil. Anter ke rumah dan siapin makan malam sambil nunggu bapake, baru berangkat ke stasiun untuk kelas sore. 

Jam 22an pulang kuliah agak sante karena kereta lebih lega jadi bisa baca2 ato merem2 dikit. Nyampe stasiun Juanda kalo masih laper ya beli di warung kalo ga langsung pulang. Tapi biasanya susah kalo disuruh langsung tidur, jadi goler2 nonton tipi, baca2 ato nyemil2. Jam 24 maksimal udah harus hit the bed.

Wiken hari bebas, bebas dari kerjaan dan tugas jadi bebas maen dan jalan2 sama anak dan swami. Pokoknya tugas2 harus kelar H-1, materi dibaca sebelum kuliah dan kerjaan sebisa mungkin kelar sebelum jam 17. 

Yang masih harus diperbaiki adalah manajemen makan, karena kami udah bosen dengan katering jadi terpaksa beli2 di warung deh. Tapi kan nggak jaminan sehat. Jadi bisa nyontek triknya Mbak Julie untuk nyetok makanan selama seminggu yang bisa diolah dengan cepat. tapi untuk itu saya butuh decent kitchen.

Image

Dari semua anakku itu, semua punya waktu eksklusif kecuali yang paling gede; bapake. Jadi ya sebisa mungkin ngobrol pas ketemu, pas wiken ato kalo perlu escape berdua kalo si kecil ada yang jaga.

Kalo me-time masih bisa diakali pas istirahat siang cabut ke mall/nonton. Bahkan mandi lama2 pun bisa jadi me time kalo ditambah musik dan peralatan spa. Yang paling susah adalah nyari waktu hengot bareng temen. Mereka pasti keluarnya afterwork, ato wiken. Sementara jam-jam itu udah di-plot sama kuliah dan keluarga. I miss having a good time with friends. Mungkin kapan2 ijin escape sama Bapake. 

Good rest. Ini juga semakin sulit. Kadang tidur malem aja gak selera, tapi bangun pagi juga susah karena berasa masih capek. Kadang sampe dibelain pulang pas istirahat/sebelum kuliah untuk catch up on some sleeps. Padahal kata mbak Julie, kunci dari Motherhood yang sukses ya Ibu yang enerjik dan sehat, untuk itu 7hours sleep is no compromising. Mungkin perlu tempat istirahat yang lebih decent. 

Image

Bukan rumah kami…

 

Mom in training

Jadi ibu itu, yang nyambi kerja ato enggak, kerjaan paling rumit sedunia. Nggak ada resep nggak ada manual guide-nya, tapi di lain pihak gak boleh salah juga. No room for error (plenty room for guilt, though).

Jadi ibu 1 anak dengan 1 kerjaan yang ecek2 gini aja aku udah jungkir balik kayak akrobat sirkus, aku ga kebayang dengan ibu2 selebritis yang pasti kerjaannya lebih demanding dan anaknya lebih dari satu. And I’m talking about those women who really take care of their family, not just delegating all her home duties to her servant/mother. Apalagi perempuan2 di negara barat yang susah pembantu dan jarang pake kendaraan pribadi.

Yang sering aku baca di artikel2 majalah, ato novel sih mereka kayak kita juga. They juggle. Meskipun beberapa ibu nggak mau dibilang juggling with her family, tapi itulah analogi yang paling mewakili. Kita seperti dituntut untuk menangani semua hal dengan benar dalam satu waktu. Penggambaran yang paling pas ya Sarah Jessica Parker di ‘I don’t know how she does it’

Panic, Manic, hectic, nerve-wrecking adalah kata2 yang sering kita gunakan untuk menggambarkan keseharian seorang ibu. Waktu seakan berjalan begitu cepat, kerjaan seperti nggak ada habisnya, istirahat adalah waktu yang sangat langka. Sounds familiar kan ya. Nggak peduli udah di planning seberapa mateng selalu adaa aja yang mleset, semrawut dan akhirnya grusa-grusu lagi, grabak-grubuk lagi. Cerita lama…

Mau liat pengalaman emak sendiri lah, cerita temen, cerita ibu2 lain, sama aja…..nggak ada resep yang pakem untuk mengatasi kerjaan rumah dan kerjaan kantor dengan lebih teratur…….sampe aku menemukan blog-nya Gwyneth Paltrow. Orang2 seperti dialah yang aku kagumi karena hidupnya yang nampak berhasil menyeimbangkan kerjaan dan perhatian ke keluarga. Dia membagi cerita keseharian dan tips2nya mengatasi hari2 yang sibuk. Tapi bukan cerita dia pribadi yang bikin aku terpana, tapi cerita temennya Juliet de Baubigny – seorang ibu 3 anak dengan 2 pekerjaan di sebuah financing office yang sukses. Kebayang cewek2 Manhattan yang necis2 itu. But this one has 3 kids and really tend to them.

Trik2nya dalam memampatkan berbagai kegiatan dalam satu haru nampak begitu efektif. Okelah panik dan hectic tidak akan terhindarkan, apalagi dengan keberadaan precil2, tapi dengan manajemen dan strateginya meng-organisir segala hal itu memperkecil kemungkinan eror dan memudahkan kita menjalani keseharian bahkan mendelegasikannya kepada orang lain kalo memang kita berhalangan. Jadi ngga semua2 harus ibu yang menangani.

Image

This may freak you out (I did) but this really does the trick to save time. Think about it:

1. Membuat spreadsheet (yes she does it in excel) untuk jadwal harian, mingguan dan bulanan sehingga bisa saling mengingatkan dan gak ada yang kelewat. Jadwal ini di print out dan dipasang di bulettin board yang dipasang di dapur/ruang makan yang mudah dilihat semua orang

2. Dia juga membuat daftar isi tas sekolah setiap anak, tas menginap kalo ada yang mau sleepover, tas liburan untuk seluruh keluarga kalo mereka pergi berlibur. Dengan begitu siapapun (bapaknya, nany-nya atau bahkan anaknya sendiri) bisa bantuin beberes kalo mau packing. Daftar ini di-print dan dimasukkan folder khusus yang diletakkan di dapur. Semacam guide book to everyday life.

3. Dia membuat daftar birthdays and holidays dan siapa aja yang harus dikasih kado tahun itu dan MEMBELI langsung seluruhnya. Kado2 itu dimasukkan tas plastik transparan yang diberi label nama masing2. Jadi sewaktu2 ultah si A datang, tinggal ambil dan dikasih deh. Nggak ada ribet2 belanja kado last minute ato malah kelupaan.

4. Nggak ada ceritanya ngasih kado tanpa kartu ucapan untuk seorang ‘Perfect Mother’. Jadi dia punya berlusin2 kartu ucapan yang dimasukkan dalam folder berdasarkan kategorinya ‘Kartu Ultah Anak’ ‘Kartu Natal Dewasa’ dll. Amazing eh?

5. Makanan sarapan disiapin seminggu sebelumnya. Dia bikin makanan2 pre-made yang mudah disiapkan setiap pagi seperti oat-bar, caseroll ato mungkin kalo kita bisa bikin nugget, ato telur rebus gitu kali ya. Lumayan bisa dimasukin lunch-box juga

Image

6. Kalo masalah masak memasak si ibu ini juga bikin daftar menu mingguan dan pesen ke grocery-nya untuk mengantar bahan mentah sesuai daftar setiap hari. Tapi kalo kita mungkin bisa mengandalkan tukang sayur keliling atau nyetok mingguan di kulkas kali ya.

7. Untuk family time dia selalu mengantar anak2nya sendiri ke sekolah, menyempatkan seminggu sekali dinner dengan suami, dan setiap hari minggu masak bersama dengan anak2nya. Setiap hari harus ada minimal 2jam untuk masing2 anak dan suaminya. kalo kurang dari itu berarti dia overwork. Gilak ya

8. Kalo kerjaan dia pokoknya tau beres. Sampe kantor asisten-nya udah siap dengan jadwal hari ini jadi dia tinggal dateng ke meeting ini, telpon itu, ngemail ini, tanda tangan itu. Bahkan di mobil pun sebisa mungkin do something, dia bawa daftar orang2 yang perlu di telp hari itu dan membalas email2.

9. Saking ga mau buang waktu, dan pengen semua beres. Bahkan dia punya jadwal ketemu stylist setahun 4 kali untuk mengorganisir koleksi bajunya supaya tetep up-to-date dan siap dengan rumus mix-match untuk setiap ocassion season itu. Dan karena dia ngerasa shopping is a waste of time, jadi dia tinggal minta list item fashion apa aja yang must-have dan shopping semuanya online ato minta si stylist anter ke rumah. Pantesan orang2 itu selalu chic dimanapun berada bahkan dalam kondisi panik sekalipun.

10. Hal itu berlaku dengan jadwal cek-up dokter, jadwal potong rambut, jadwal spa dan jadwal2 rutin lainnya. Dia menjadwalkan semuanya dalam satu hari untuk dia dan anak2nya, jadi dia ga perlu bolak-balik ijin keluar kantor. Semua beres dalam satu hari. Bahkan untuk jadwal salonnya sendiri dia punya langganan yang bisa bikin paket perawatan 70menit mulai dari creambath, spa, massage sampe mani-pedi. Not relaxing but effective katanya. No doubt woman!

Jadi kalo sampe aku ketemu orang ini dan melihatnya jungkir balik ngurusi kerjaan dan keluarga tapi tetep stylish, anak2nya terawat dan gak pernah lupa detail2 kecil seperti bingkisan dan kartu ucapan. Aku nggak akan kaget. It is not without planning.

IMG_7429