Stop langganan @ayahbunda nggak ya…..

Namanya juga ibu baru, jadi wajar kalo sejak hamil udah getol mengumpulkan dan melalap berbagai info tentang kehamilan, kelahiran, bayi sampai cara2 pengasuhan. Nah dari jaman mama mengandung aku, taunya ya majalah Ayahbunda yang bisa dijadikan sumber terpercaya. Ulasannya menarik, bahasanya pas, gambarnya lucu2, ada bonus Buncil lagi..

Jadi aku pun mengoleksi majalah Ayahbunda, bahkan memburu buku terbitannya terutama untuk Buku Panduan Menyusui dan Pure -Panduan dan Resep Makanan Halus Untuk Bayi. Kenapa fanatik banget? Selain dokter, belum ada sumber lain yang aku gak ragu untuk mempercayai; sudah dipercaya berbagai generasi dan ada institusi yang menaunginya.

Nah sayangnya, sudah beberapa bulan ini, atau lebih tepatnya sejak mulai langganan lagi tahun lalu, aku ngerasa ada yang beda dari Ayahbunda. Kenapa aku bisa bilang beda? Karena dulu pas aku mau punya adikpun (menjelang SD) aku sudah sering buka2 majalah si mami, bahkan pas masih kecilnya bacaanku ya Buncil. Dan setiap membaca itulah aku selalu merasa fascinated, mungkin awalnya dari gambar2, lama2 setelah agak gedean dan ngerti isinya jadi dapet info baru. NAH itulah yang tidak aku dapatkan lagi dari Ayahbunda (yang sekarang).

Beberapa kali -setiap kali- baca cover to cover kok ya adaaa aja artikel yang ngganjel dan pas di hati. Biasanya kalo artikelnya mulai menjurus ke paranoid, misalnya bayi di atas 12 bulan seharusnya sudah bisa tidur sepanjang malam tanpa terbangun, bila bayi anda masih sering terbangun bukan karena lapar kemungkinan ada kelainan atau gejala penyakit serius. (or sounds like that). Itu kan Gila! menurutku. Okelah dia berusaha mengungkap berbagai kemungkinan, tapi kan harus fair. Seandainya kemungknan itu 1:100 ya ga usah digede2in lah, kalo perlu jadiin footnote aja sekalian. Aku pribadi ngerasa nggak nyaman dengan hal itu makanya seringan langsung skip kalo artikel udah menjurus ke parno, ambil info yang berguna ajah.

Selain itu, sebagai ibu yang tidak tinggal di kota besar (metropolitan) aku mulai ngerasa nggak nyambung dengan 'gaya hidup' Ayahbunda. Misalnya "Bunda Masa Kini membaca Ayahbunda melalui Smartphone. Anda pasti salah satunya". Telpon gw gak smart, jadi gw ga boleh baca Ayahbunda gitu maksudnya? Atau kalimat simpel seperti "untuk menjaga kesehatan pernapasan buah hati anda, ajaklah ia sesekali menikmati udara segar di luar kota" Nah itu kan berarti asumsinya pembaca Ayahbunda tinggal di perkotaan yang udaranya tercemar dan banyak polusi, padahal kalo mau udara segar aja sih saya tinggal nongkrong dibawah pohon depan rumah. Sebagai pembaca,saya merasa tidak digolongkan dalam target pasarnya (Markom berbicara)

Sebenarnya dua hal diatas itu yang paling dominan bikin saya males beli2 lagi. Males keluar duit cuma buat ditakut2i dan dibikin nggak tenang. Selain itu ada juga faktor kekecewaan saya dengan sosok Buncil baru yang sama sekali berbeda dengan Buncil yang saya kenal (immateriil deh!). Selain karakternya udah ga ada yang sama, muatannya juga perasaan kok nggak se-fun yang dulu ya, sumpah deh. Saya berani bilang gitu karena saya bisa bandingkan dengan koleksi Buncil yang masih saya simpan. Buncil dulu itu gamesnya bervariasi dan beda2, lha sekarang perasaan cuma 'mewarnai' dan 'temukan perbedaannya' doang. Cerita2nya juga bayi banget deh, ga ada yang berkesan (coming from a 28yo woman). Selain itu karena jaman udah serba komputer jadi gambarnya perasaan copy-paste smua deh, ga ada lagi gambar2 pletat-pletot khad coretan tangan kayak dulu.

Haaah…….intinya saya merasa Ayahbunda kehilangan karakter yang dulu saya kagumi. Dulu kayaknya Ayahbunda itu sosok ibu2 berkacamata yang tenang, mengayomi dan penuh akal. Sekarang jadi sosok ibu2 kantoran yang ambisius dan sibuk kampanye Asix. Kalo itu sih tinggal baca Milist ajah….:(.

Haruskah kita putus karena perbedaan prinsip ini…….(duit langganannya bisa buat jajan hehehehe)

Advertisements

4 thoughts on “Stop langganan @ayahbunda nggak ya…..

  1. Aku juga dari SD baca Ayahbunda! Hehehe, akibat mama yg langganan menjelang adik mau lahir. Setuju, aku pun penggemar Buncil. Kayaknya penuh kenangan deh liat gambarnya aja. Sekarang beda ya? Nah kalo aku, beli majalah yg sekiranya artikelnya menarik & perlu dibaca. Bulan ini beli majalah A, bln depan bs beli B, kalo pas majalahnya ga ada yg bagus ya ga usah beli, hehehe…

  2. Udah coba tabloid nakita?dulu sih informasiny ckp informatif jg (nyokap beli pas hamil Adit 😛 ) Atau ngga, ikut cara ny mba Icha aj, beli klo artikelny ada yg menarik 😉

  3. maunya gitu; beli pas ada artikel bagus, tapi jarang nggelewati kios majalah euy. akan kucoba Nakita, tabloid mestinya lebih murah juga kan…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s