Sirkumsisi Si Mozi

Haaah….*bau pete

Akhirnya aku siap juga menceritakan kronologis sunatan-nya mozi. Entahlah, sepertinya proses itu lebih traumatis untukku daripada untuk Mozi-nya. Deg2an sejak kontrol dokter, nunggu di ruang tunggu, bolak2 lab, sampe akhirnya tiba hari H, masih kudu ngantor, nganter ke RS, nunggu lagi, nunggu giliran, nunggu dokter, nunggu mertua yang tak kunjung tiba dari Airport dan akhirnya malem2 berkendara ke Lebak Bulus untuk mengungsikan Mozi selama seminggu recovery. Jadi begini cerita lengkapnya.

Keluhan-keluhan
Sejak lahir memang dokternya bilang kalo lubang kencingnya Mozi tergolong kecil sehingga harus rajin dibuka dan dibersihkan. Selama tidak ada keluhan, tidak perlu disunat. Setelah pindah jakarta umur 1 tahun 3 bulanan, dia beberapa kali demam tanpa sebab yang jelas, setelah dikasih penurun panas langsung reda. Setelah ketiga kalinya, dokter umum IGD menyarankan untuk tes darah-urine untuk mengetahui penyebabnya. Ternyata benar dugaan kami, ada bakteri di urine-nya yang berarti dia kena infeksi saluran kemih. Oleh dokter diberi antibiotik. Tapi kami sepakat untuk melakukan sirkumsisi, supaya nggak terulang lagi dan sukur2 sakit2 yang lain jadi ikut ilang. 

 

Konsultasi Dokter Bedah
Pertama konsultasi kami ke dokter bedah anak di Malang, karena rencananya mau dilakukan di Malang. Dokter bedah yang asik itu setuju untuk melakukan sirkumsisi selama batuk-pileknya mozi sudah sembuh. pas batpil sembuh, eeeeh dokternya pindah tempat praktek dan kami kesulitan mengatur jadwal. Akhirnya kami tetapkan untuk melakukannya di Jakarta, dengan mengangkut para embah ke jkt bila perlu. Dokter pertama adalah dokter bedah di RS.Bunda. Namun dokter tsb menyarankan untuk menunda sirkumsisi karena usia yang masih terlalu kecil dan anaknya yang sudah sangat aktif. Dokter meresepkan obat pembersih penisnya dan mengajariku cara membersihkan yang benar untuk menghindari infeksi. Pada momen itulah saya malah semakin bertekad bulat untuk menyunatkan mozi. karena sesungguhnya sodara2, proses ‘membuka dan membersihkan’ yang aku lakukan selama ini masih jauh dari benar. Membayangkan harus sehari minimal 2 kali melakukan prosesi itu pada mozi, sepertinya aku gak kuat hati (dan belum tentu bisa). Akhirnya kami pindah ke dokter bedah anak di RS.Hermina yang tidak banyak kata namun langsung membuat keputusan sirkumsisi dengan cepat

Pra-Sirkumsisi
Setelah mengatur administrasi dan jadwal opersi dengan pihak rumah sakit, kembali Mozi diambil darahnya untuk dicek di lab. Apabila umlah erytocyt yang rendah membuat proses operasi harus ditunda karena kawatir sistem pembekuan darahnya rendah. Setelah mengambil hasil lab beberapa hari kemudian, giliran kami berkunjung ke dokter anestesi yang memeriksa stamina dan kondisi fisik Mozi untuk persiapan bius umum. Alergi apa saja, sedang sakit atau tidak, hasil lab darahnya, dll. 

Hari Pelaksanaan Sirkumsisi
Pada hari H mozi sengaja tidak masuk sekolah, karena harus melakukan puasa; tidak boleh makan padat 8 jam sebelumnya, minum susu sapi 6 jam sebelumnya, minum asi 4 jam sebelumnya, dan air 2 jam sebelumnya. Sungguh perjuangan yang berat buat Mozi dan Bapak yang siang itu terpaksa melarang mozi makan dan minum meskipun dia terlihat lapar. Puasa ini dimaksudkan agar isi perut tidak menyumbat saluran nafas saat dibius, dan agar tidak kencing saat jahitan masih basah. 

pukul 14.00 begitu rapat yang aku organize selesai, aku langsung izin pulang. Untuk menyiapkan baju2 dan makanan mozi. Ternyata sama seperti aku, bapak juga belum makan siang. Kalo aku karena nggak sempet, kalo bapak karena takut ketauan Mozi. Kasian dia makin pengen makan, katanya sampe bawa piring kemana2 sambil minta “maem..maem”. Huhu. Alhasil kami bertiga siang itu lemas kelaparan. Setelah mobil sewaan datang, kami angkut semua keperluan. Selain keperluan selama di RS juga keperluan selama menginap di rumah Tante di Lebak Bulus. Karena rencanannya Mozi akan diasuh bapak dan embahnya selama recovery di rumah Tante. 

Masa Penyembuhan
Selama luka masih basah masih gak boleh pake celana, apalagi popok. Kalo pipis belum boleh dibasuh air, hanya dilap. Selama itu juga dikasih antibiotik untuk menghindari infeksi dan parasetamol untuk mencegah demam dan meredam nyeri2. Aku sedikit tenang kembali kerja karena Mozi masih aktif, meskipun gak mau kena kain apapun, jadilah dia pake sarung kemana2 (dijahitin embahnya sarung dari kain katun biasa, jadi mirip rok memang :D). lebih tenang lagi karena embah kakungnya sudah dateng, dan dia emang seneng banget maen sama kakungnya itu. 

Tiga hari setelah operasi lukanya mengering dan dia udah mau pake celana. baru seminggu kemudian boleh pake popok. setelah itu kudu kontrol ke dokter untuk memeriksakan jahitannnya. alhamdulilah mengering dengan baik dan sedikit dem sedikit luka mengering dan jahitannya lepas sendiri. sekarang sudah bersih seperti biasa. 

 

 

 

Advertisements