Push it!

Baru baca posting ini dari ‘teman’ blog yang sedang galau. Seorang food-blogger Amrik yang menurutku hidupnya wenak banget. Dia bisa makan enak di resto2 terkenal, hasil makanan chef terhandal kadang dengan gratis. Dia bisa masak masakan sehat dan yummy setiap saat kadang bahkan dibayar! Setelah kisah sukses dietnya tersebar, dia ditawari proyek bikin buku oleh sebuah publisher ternama, bahkan dikasih advance payment untuk menulisnya. Karena menulis butuh inspirasi dan inspirasi bisa didapatkan dimanapun, dia pun memutuskan untuk ‘berlibur’ selama 6 bulan di pulau tropis di pinggir pantai sambil menulis bukunya. Kurang apa coba hidupnyaaaa…….cantik,hepi, sante, kaya, tanpa bebanlah.

Eh lha kok ternyata dia baru mengalami depresi sampe kudu ke pskiater dan minum obat anti-depresan segala. Ada apa gerangan? Entahlah ternyata selama ini dia menyimpan ganjalan dalam hati. Dengan hidup yang udah enak kayak gitu dia masih ngerasa mengecewakan ibunya. Ibunya seorang pejuang sejati, selama bapaknya terjerat alkohol dia kerja 2-3 pekerjaan setiap hari sepanjang hidupnya untuk membiayai anak2nya. Itu semua dilakukan dengan senang hati, tanpa mengeluh, bahkan sampe anak2nya udah mapan sekalipun dia ga bisa kalo ga kerja banting tulang.

Menurut ibu ini, dia bangga sekali dengan anaknya karena dia memiliki bakat yang luar biasa. Jago nulis, jago nyanyi, jago masak, selalu juara kelas, jago gambar bahkan setelah lulus sekolah dia jadi art director di rumah produksi filem2nya Leonardo di Caprio. Tapi entah mengapa si anak ini seakan tidak menyadari (atau menyepelekan? atau tidak menghargai) bakatnya sendiri sehingga sering melewatkan kesempatan2 yang datang padanya. Waktu lulus sekolah dia dapet beasiswa masuk college nggak diambil karena katanya “it’s not that important”, kesempatan ikut American Idol di kotanya terlewatkan 2 kali, bahkan saat ibunya mendorongnya ikut les vokal pun dia berakhir ngambek dan ga pernah nyanyi lagi di depan ibunya, yang terakhir kerjaan Art Director dilepas karena dia pengen bikin blog masak.

Kebayang ga kecewanya si ibu yang udah banting tulang pengen anaknya sukses, tapi anaknya malah membuang kesempatan2 emasnya? Tapi di sisi lain si anak juga ga bisa dibilang gagal lha wong dia sekarang hidup enak dan dapet duit cukup dengan kerjaan blogging ini. Tapi si ibu masih ngerasa si anak tidak memanfaatkan bakatnya, sehingga akhirnya membuat si anak pun ngerasa mengecewakan ibunya.

Di satu sisi aku mengagumi kehidupan sante si anak, tapi di sisi lain aku ikut kecewa setelah mendengar cerita si ibu. Jadi sebetulnya seberapa jauh kita harus mendorong anak kita? Apa tolok ukur kesuksesan anak buat kita orang tuanya? Sampe mana kita mesti mundur dan melepaskan anak kita menjalani pilihan hidupnya? Untuk generasi lama mungkin pertanyaan ini mudah dijawab, tapi bagaimana dengan kita yang membesarkan generasi Z yang pasti dunianya akan berbeda sekali dengan kita nantinya.

Mozi si anak proyek

Kalo inget cerita Tiger Mother aku ga pengen juga bikin anak stres karena terlalu dipaksa dan didorong untuk mencapai prestasi yang kita inginkan. Tapi aku juga bakal makan ati kalo tau anakku ternyata jago sesuatu tapi dia malah menyia2kan keahliannya. Idealnya sih anak punya minat dan bakat, kita punya duit dan energi untuk mendampingi, membimbing, melatih dan menggemblengnya untuk meraih mimpi. Win-win dan happy ending kalo gitu ceritanya.

Tarolah dari pihak orang tua kita punya segala resources untuk mendukung anak kita, tapi gimana kalo anak kita yang malah ga semangat? Malah dia yang ga peduli dengan bakatnya dan menyia2kan kesempatannya. Haduh miris membayangkannya. Karena aku tau di luar sana banyak anak2 yang less-fortunate. Punya minat ga punya bakat, punya bakat ga punya resources (read: duit). Lha ini punya semuanya kok malah dilepas.

Mungkin inilah dilema generasi yang lebih berkembang. Mereka nggak pernah susah, nggak perlu banting tulang untuk makan, maen dan dapet duit. Semua berjalan lancar bahkan tanpa mereka berusaha terlalu keras. Bahkan generasi kita pun sedikit banyak sudah merasakannya, meskipun kalo aku sih ga sampe seenak itu duit ngucur dari keran. Aku tetep harus sekolah, kuliah dan dapet kerja mapan untuk mencukupi kebutuhanku. Bagaimana dengan generasi Mozi nanti?

Atau mau jadi tentara?

Kita nggak tau gimana nantinya sih, dan masih belum ada jawaban untuk pertanyaan2 di kepalaku, tapi paling tidak ini cukup membukakan mataku akan kemungkinan2 di luar sana, jadi aku bisa mengatur langkah.

Sebagai orang tua kita tentukan framework dulu lah. Kalo kita dulu dipatok ortu untuk berprestasi di sekolah, melanjutkan kuliah, dapet kerja mapan, sukur2 PNS terus nikah dan punya keluarga mapan. Belum tentu patokan itu relevan dengan generasi yang akan datang, lha wong pakem itu aja udah ga pas di generasi kita yang bikin ortu2 stres karena anak gadisnya melajang sampe umur 40 padahal kerjaan sukses dan bergelimang duit misalnya.

Kalo aku pribadi pokoknya anakku harus sehat jasmani rohani, dan kuat dasar agamanya. Itu dulu basic yang harus dicapai. Baru setelah itu dia harus mendapatkan pendidikan formal sesuai standar Indonesia tapi sebisa mungkin nggak membatasi ruang geraknya dan ga bikin stres. Di sisi lain aku ingin dia menemukan passion dan bakatnya dan mendalaminya. Nah apapun minat dia, selama tidak berbahaya dan sesuai norma ya sebiasanya lah kita dukung nggak setengah2. karena aku percaya segala sesuatu, memelihara semut sekalipun, kalo ditekuni pasti jadi sesuatu yang besar dan bermanfaat. Dan segala sesuatu yang setengah2 itu yang ada malah ngabisin duit dan buang waktu. Diharapkan kalo kita udah memberi fasilitas dan dukungan sampe dia dewasa nanti, dia bia mandiri secara finansial. Kayaknya itu dulu yang kepikiran.

Tugasku adalah membimbing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s