My Baby Blues

Semua ibu, mengalami Baby Blues, beberapa bahkan sampai pada tahap Post-Partum Depression. Ya, aku berani bilang SEMUA ibu tanpa kecuali. Meskipun tarafnya berbeda-beda pada setiap orang. And it’s all very normal.

Secara biologis tubuh kita baru saja mengalami perubahan yang amat besar saat hamil, lalu berubah lagi saat si bayi lahir. Segala perubahan hormon, perubahan fisiologis dll itu masih ditambah dengan kelelahan yang amat sangat, kurang tidur dan beban mental harus mengasuh seorang manusia titipan Tuhan. Itu semua tidak memberi waktu pada ibu untuk beradaptasi, menyesuaikan diri atau sekedar memulihkan diri sendiri. Orang yang baru operasi usus buntu aja masih dikasih waktu untuk pemulihan sebelum beraktifitas, nah ini malah ditambah kerjaan-kerjaan baru yang belum pernah kita alami sebelumnya (terutama untuk ibu baru)

Jadi sekali lagi aku tekankan untuk calon ibu, atau ibu baru; jangan merasa aneh apalagi merasa bersalah kalo kita mengalami suasana hati yang buruk sekali setelah melahirkan. Bayangkan ini PMS x10.

Kalo aku dengar dari cerita ibu-ibu lain dan dari artikel2 parenting, Baby Blues bisa bervariasi mulai dari perasaan lelah yang berkepanjangan, perasaan serba salah, perasaan sedih, perasaan marah pada setiap orang bahkan pada fase ekstrim perasaan benci pada si jabang bayi. Jangan buru2 menghakimi, bisa jadi itu semua hanya ulah hormon dan logika yang sedang jungkir balik. Pokoknya kalo sudah begini, jangan sungkan menerima bantuan orang lain. It for your own good and your baby. You have your entire life to take care of him/her, but for the time being, take care of yourself.

Ini aja aku baru bisa cerita tentang Baby Blues setelah 4 tahun berlalu, mungkin karena tahun-tahun sebelumnya aku sendiri masih berjuang untuk memahaminnya dan akhirnya menerimanya sebagai sebuah fase yang harus dilalui.

Tidak seperti suamiku, aku tidak asing dengan kehadiran bayi dalam rumah. Aku memiliki adik pada saat aku sudah sekolah umur 6 tahun. Jadi aku dengan sadar mengalami dinamika bayi baru dalam rumah dan turut membantu seadanya. Jadi saat aku hamil pun aku pede bakal bisa mengalami hal ini. Hanya saja di dalam hati aku masih berharap setelah melahirkan nanti, benar2 akan ada keajaiban motherly instinct yang membuatku mampu merawat anak manusia itu.

Tapi itu semua buyar saat menjelang kelahiran. Selama 24jam aku nggak tidur dengan kontraksi yang menyiksa di perut dan pangkal paha. Itu adalah awal dari exhaustion yang akan terus menumpuk sampai pasca kelahiran. Jadi, di saat aku amat sangat butuh istirahat aku nggak bisa tidur karena kepikiran ini bayi mesti diapain dan harus terus stand by jaga-jaga si bayi minta minum (masih untung nggak room-in jadi nggak terus menerus khawatir dengan si bayi).

Kekhawatiran berlebih itu semakin di perparah dengan datangnya ibu-ibu lain yang menceritakan kisah sukses dan kisah buruk anak-anaknya. Ini kepala kayak mau meledak dengan segala negativity “jadi aku salah ya karena caesar” “kenapa aku nggak sehebat si A” “nanti anakku bakal normal nggak tumbuhnya” “gimana kalo aku ga bisa asi” “gimana kalo ga bisa asuh anakku sendiri” “gimana kalo aku pake pembantu” “gimana kalo aku ga inget pesan2 suster” “gimana kalo aku ga bisa gantiin popok” “gimana kalo anakku demam dan aku ga bisa ngatasi” dll dll dll dll dll dll …………………dan BLAR! aku nangis senangis2nya di depan suamiku.

Semua kekuatan, senyum dan pikiran positif yang selama ini susah payah aku bangun, buyar…Aku salahin semua orang, aku salahin diriku sendiri, aku salahin suami, aku salahin keadaan, semua salah, salah semua. Kasian bayi itu punya ibu yang nggak berguna kayak gini. Seharusnya dia jadi anaknya si A aja, si A lebih kalem, lebih terampil, lebih keibuan bla bla bla bla bla…….nggak ada yang logis sama sekali.

Bahkan momen membawa bayi pulang yang aku bayangkan bakal meriah dan penuh suka cita ternyata jadi momen yang gloomy dan penuh kekhawatiran. Embah2 yang sudah lama nggak ngasuh bayi itu jadi panik dan senewen. Nggak ada tuh aura-aura ‘enak ada bayi di rumah’ yang biasa aku rasakan di rumah2 anak kecil. Semua tegang.

Bahkan saat ada yang membantu merawat si bayi dan ternyata si bayi lebih tenang dalam asuhannya, itu hati rasanya kayak diinjek2 gajah. Sakiit dan maraah banget. Jadi aku gunanya cuma buat minum aja kalo si bayi laper, kayak dispenser. Kalo aku nggak punya asi aku pasti sudah nggak ada gunanya.

Ketegangan itu terus membayangi 2 tahun pertamaku sebagai ibu. Tapi makin lama kekhawatiran itu berkurang karena banyak belajar dari sana sini. Dulu setiap ada orang yang kasih wejangan ini itu, bawaannya langsung emosi dan pengen nangis. Tapi makin kesini, makin bisa menyaring mana wejangan yang perlu didengerin, mana yang enggak. Kapan kita harus percaya kemampuan sendiri, kapan harus minta bantuan orang lain.

Dan si bayi yang dulu masih begitu rapuh dan sangat bergantung pada kita pun, akhirnya beranjak besar dan mandiri. Bisa main sendiri, bisa makan sendiri, ganti baju sendiri.

Kalo dipikir2 kekhawatiran2 itu banyak yang nggak berguna, cuma overthinking ibu amatir. Tapi ada juga kekhawatiran yang memang logis dan perlu dipegang supaya kita selalu aware dan nggak sembrono.

All in all, we mothers are all the same. Black white, rich poor, single double. We are not the only one, We are not alone. And always believe that the best place for a baby is with his/her parent. Period.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s