Boleh Marah…

Marah itu boleh nggak sih?….Kalo yang tanya orang dewasa, maka saya bilang nggak boleh. Titik harga mati
Kalo yang tanya anak kecil, saya bilang boleh marah. Kenapa?

Karena menurut saya Marah yang dilarang adalah tindakan emosional yang dilakukan atas dorongan perasaan, bukan logika. Marah disini bisa berupa tindakan agresif seperti teriak-teriak, ngomel, memaki, tapi bisa juga pasif seperti menanangis, diam dan dendam. Misalnya waktu mobil kita diserempet motor. Atau saat buku kita disobek si kecil. Mungkin kita diam saja, tapi dalam hati gondok juga kan? Nah perasaan itulah yang menurut aku harus segera didinginkan.
Amarah yang ini yang seharusnya dibasmi. Karena tindakan apapun kalo didasari tindakan emosional pasti gak baik jadinya.

Nah, definisi Marah ini jadi berbeda pada anak kecil. Entah bawaan orok atau karena lingkungan, hampir semua anak kecil mendefinisikan marah sebagai perkataan keras yang menyakiti hati mereka dan membuat mereka sedih/takut. Bahkan saat perkataan /teguran itu disampaikan dengan lembut tanpa nada tinggi sekalipun
"Adek bukunya jangan disobek ya…" eh nangis anaknya
Atau saat si kecil lupa dengan ulang tahun kita
" Mama jangan marah ya, tapi adek lupa beliin mama kado"
Padahal mana mungkin kita marah hanya karena kado. Yang ada malah terharu dan gemes.
Tapi kenyataannya mereka takut. Takut kita akan kecewa, takut kita akan menegurnya dll.
Itulah definisi marah buat mereka.

Dalam hal ini saya terpaksa mengatakan bahwa marah itu tidak apa-apa. Dan marah itu diperbolehkan.

Pertama, karena dalam usia perkembangan seperti mereka, anak-anak harus mulai mengenal peraturan dan norma-norma dasar. Mana yang diperbolehkan, mana yang dilarang dan apa alasannya. Ada kalanya mereka harus belajar tentang batas-batas tersebut melalui teguran baik yang lembut maupun yang keras.

Dalam memperingatkan anak, saya pribadi memiliki 3 tahap
Tahap satu memberitahu dalam suasana santai dengan penjelasan panjang lebar
Tahap kedua adalah menegur dengan suara normal hanya untuk mengingatkan bila anak lupa batasan
Tahap ketiga menegur dengan suara keras saat tindakan yang dilakukan anak tergolong sangat berbahaya atau sangat tidak sopan. Supaya dia segera mengehentikannya dan selalu ingat untuk tidak mengulangnya lagi.
Tahap keempat adalah dengan peringatan fisik misalnya menggenggam lengannya bahkan menjewer. Dalam tahap ini saya merasa bahwa anak sudah seharusnya memahami aturannya tapi sengaja melanggar. Hal ini untuk menegaskan padanya bahwa peraturan ini bersifat wajib dan dia akan mendapatkan konsekuensi bila melanggarnya.

Misalnya anakku, sudah sering kali kami mengingatkannya peraturan di dalam mobil bahwa dia harus berada di kursi belakang demi keamanannya . Namun saat dia mulai bosan dan mulai maju ke depan kami harus mengingatkannya dengan baik. Saat dia tidak mengindahkan dan kembali maju kedepan saat mobil melaju kencang, saya harus memperingatkannya dengan keras untuk menegaskan bahwa perbuatannya tersebut salah dan sangat berbahaya karena dia bisa melukai dirinya sendiri dan mengganggu pengemudi. Bahkan saya harus menjewernya bila dia bersikeras minta dipangku ayahnya yang sedang sibuk menyetir.

Namun marah tidak hanya milik orang tua untuk memperingatkan si anak. Anak pun boleh marah, mengungkapkan emosinya. Tapi kita harus mengarahkan ekspresinya. Pada usia yang sangat dini sekalipun aku percaya anak sudah bisa merasakan kekecewaan, sedih, dan frustasi yang susah diungkapkan. Meskipun pemicunya hanya hal-hal kecil yang menurut kita remeh, tapi perasaan yang mereka rasakan itu nyata. Dan mereka harus tahu bahwa perasaan itu normal, dan mereka harus tahu cara mengatasinya.

Misalnya anakku, dia sudah susah payah membuat pesawat dari kertas bekas, tapi tanpa sengaja dibuang oleh ibu pembersih rumah. Saat itu ekepresi wajahnya seperti ingin menangis, tapi malu. Ingin marah tapi tidak tahu harus bilang apa. Ingin membuat lagi tapi dia terlanjur kecewa. Saya harus katakan bahwa dia berhak untuk merasa marah, dan saya mengerti kalau dia kecewa. Tapi dia harus mengerti bahwa pesawatnya terbuang tanpa sengaja, dan saya akan membantunya membuat pesawat baru. Tapi kali ini dia harus lebih rapi menyimpan peswat kertasnya supaya tidak terbuang lagi. Bila perlu ibu pembersih akan meminta maaf padanya karena sudah membuatnya sedih, jadi tidak perlu memukul atau berteriak2.

Menangis pun boleh kalau memang ia sedang sangat kesakitan atau sangat sedih. Dengan begitu kita jadi tau seberapa parah sakitnya tau seberapa sedih perasaannya. Melarangnya untuk menangis akan membuat dia semakin frustasi, dan kita pun tidak bisa memantau sewaktu2 dia kesakitan atau sedih. Tapi dilarang menangis apa lagi berteriak2 kalau hanya untuk menarik perhatian dan mendapatkan keinginannya. Dijamin bakal kena marah tingkat 4….

Advertisements

One thought on “Boleh Marah…

  1. Iya ya, anak-anak mungkin masih belum terlalu ngerti banyak jenis emosi. Harus dikasih tau sama ortunya. Lha tapi ortunya juga kadang masih kacau balau mendeskripsikan emosi diri sendiri (-_-“)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s